Asrama YAPI — The Home of Future Leaders

Asrama YAPI | The Home of Future Leaders

Pusat pembinaan dan beasiswa hunian kepemimpinan mahasiswa S1 PTN/PTKIN di Jakarta sejak 1952.

Daftar Sekarang
Kegiatan

Anggaran Pendidikan Naik, Skor PISA Merosot : Ustadz Rohmani Soroti Ketimpangan Prioritas

Anggaran Pendidikan Naik, Skor PISA Merosot : Ustadz Rohmani Soroti Ketimpangan Prioritas

Jakarta, 8 Mei 2026 – Diskusi rutin Jumat sore warga Asrama YAPI kembali digelar dengan tajuk panas seputar postur anggaran pendidikan nasional. Acara yang berlangsung di Rumah Mentor Asrama YAPI, sebuah ruang diskusi dan pembinaan di lingkungan asrama, mengangkat fenomena meningkatnya alokasi anggaran pendidikan setiap tahun, namun di sisi lain skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia justru terus menurun.


Pembicara utama dalam diskusi yang digelar secara rutin setiap Jumat sebagai wadah diskusi warga asrama seputar konten digital, isu kebijakan, dan literasi kritis itu adalah Ustadz Rohmani, alumni Asrama YAPI sekaligus mantan anggota DPR RI Komisi X yang membidangi pendidikan. Dari ruangan Rumah Mentor yang sederhana namun akrab, dengan nada tegas ia mengkritisi ketidakseimbangan antara besaran anggaran dan output nyata di lapangan.


“Anggaran pendidikan kita naik terus, bahkan menembus ratusan triliun. Tapi anehnya, skor PISA yang mengukur kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa Indonesia malah merosot. Ini alarm serius,” ujar Ustadz Rohmani.



Menurutnya, kenaikan anggaran tidak otomatis memperbaiki mutu jika salah sasaran. Ia menyoroti banyaknya program pendidikan yang bersifat seremonial, birokrasi berlebih, atau tidak menyentuh akar masalah seperti kualitas guru, ketersediaan sarana di daerah tertinggal, dan ketimpangan akses digital. “Anggaran yang diusulkan harus memiliki dampak terhadap kebutuhan pendidikan yang nyata, bukan sekadar proyek tahunan. Prioritas yang dibutuhkan adalah pemerataan, pelatihan guru yang substantif, serta infrastruktur belajar yang merata hingga ke pelosok,” tegasnya dari Rumah Mentor Asrama YAPI.


Diskusi yang berlangsung interaktif di ruangan tersebut juga menyoroti bagaimana konten digital dan literasi data dapat digunakan warga asrama untuk mengawal kebijakan publik. Pertanyaan-pertanyaan kritis mengalir seputar alokasi dana BOS, gaji guru honorer, hingga efektivitas program PIP (Program Indonesia Pintar).


Salah satu warga asrama, Yeni, mengaku mendapatkan perspektif baru. “Selama ini kita hanya dengar anggaran naik tapi tidak pernah tahu ke mana perginya. Setelah diskusi ini, kami jadi paham pentingnya mengkritisi prioritas anggaran,” tuturnya.


Ustadz Rohmani kemudian memberikan perhatian khusus kepada warga asrama yang menempuh studi di jurusan pendidikan. Ia menekankan bahwa bekal menjadi pendidik tidak boleh berhenti pada penguasaan metode mengajar semata.


“Warga asrama yang kuliah di jurusan pendidikan harus betul-betul menguasai filsafat pendidikan, politik anggaran pendidikan, dan hal-hal fundamental lainnya. Jangan hanya belajar menjadi guru di kelas, tapi juga harus menjadi pejuang yang paham ke mana arah kebijakan pendidikan negeri ini dibawa,” pesannya. Menurutnya, pemahaman mendalam terhadap anggaran akan melahirkan pendidik yang kritis dan mampu mengawal agar setiap rupiah benar-benar sampai ke ruang belajar, bukan tersedot oleh proyek-proyek yang tidak menyentuh kebutuhan siswa.


Di akhir acara, Ustadz Rohmani mengajak warga asrama untuk aktif menyuarakan kebutuhan pendidikan yang realistis dan terukur. “Anggaran adalah alat, bukan tujuan. Tujuannya adalah anak bangsa yang cerdas dan berdaya saing. Jika skor PISA turun, berarti ada kesalahan dalam penggunaan alat itu. Mari kita kawal bersama,” pungkasnya di tengah suasana hangat Rumah Mentor Asrama YAPI.