Belajar dari bangsa yang sukses merawat nilai, moral, norma, dan karakter kuat di era modernisasi sangatlah penting untuk membentengi diri dari dampak negatif gaya hidup masa kini. Jepang merupakan contoh bangsa maju yang secara unik mampu menyelaraskan kemajuan teknologi dengan kedisiplinan, kesejahteraan, dan prinsip hidup yang luhur.
Buku Inspiring Education from a Small Corner of the Land of Cherry Blossoms karya Prof. Dr. Otib Satibi Hidayat, M.Pd. dan Suzanah, S.Pd. secara khusus mengupas realitas kehidupan masyarakat di kota kecil Saijo Nishihonmachi, Prefektur Hiroshima. Prof. Otib Satibi adalah alumni Asrama YAPI yang saat ini menjabat sebagai Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Kepala Litbang Yayasan Asrama Pelajar Islam. Lahir di Majalengka pada 17 Juli 1968, beliau menyelesaikan pendidikan S-1 di IKIP Jakarta tahun 1991, kemudian melanjutkan S-2 dan S-3 di UNJ pada bidang Pendidikan Anak Usia Dini. Pada 30 Juli 2024, beliau dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ dalam Bidang Ilmu Pembelajaran Kelas Awal Sekolah Dasar. Pengalaman dan kapasitasnya sebagai akademisi menjadikan buku ini bukan sekadar catatan perjalanan, tetapi juga mengandung analisis mendalam tentang bagaimana nilai dan karakter dapat dibangun dalam kehidupan bermasyarakat.
Fenomena di kota kecil Hiroshima tersebut menjadi cermin berharga bagi kita. Meskipun infrastruktur di sana sangat modern, masyarakatnya tetap memegang teguh kejujuran, kebersamaan, kepedulian lingkungan, penghormatan hak sesama, budaya hidup sehat, serta keharmonisan antara teknologi dan kearifan lokal warisan leluhur. Melalui catatan perjalanan selama di Jepang, buku ini menguraikan berbagai potret menarik yang mencakup aspek budaya dan ruang publik, seperti Hanami, telepon umum koin, kotak pos, Chuo Koen, Kagamiyama Koen, Calm Down Space, perpustakaan ramah anak, hingga perayaan musim semi. Semua itu menggambarkan bagaimana ruang publik di Jepang dirancang tidak hanya untuk fungsi praktis, tetapi juga untuk membangun kebersamaan dan kenyamanan warga.
Di sisi kesejahteraan, buku ini mengulas sistem kesejahteraan ibu dan anak yang mapan, mulai dari hadiah kehamilan dan melahirkan masing-masing sebesar ¥50.000, makan siang mewah bagi ibu melahirkan, hingga konsultasi kesehatan mental bagi ibu hamil. Hal ini menunjukkan perhatian serius negara terhadap generasi penerus sejak dini. Dari sisi pendidikan, pembaca diajak melihat pembentukan karakter sejak dini melalui penggunaan tas Randoseru, subsidi sekolah ¥50.000, budaya jalan kaki ke sekolah (Tsūgaku) bersama ketua regu (Hancho), fasilitas SD negeri yang terintegrasi, penerapan Green School, hingga sistem pemantauan berkala sebagai usaha preventif terhadap perundungan. Kebiasaan-kebiasaan kecil ini ternyata memiliki dampak besar dalam membentuk kedisiplinan dan kemandirian anak-anak Jepang sejak usia dini.
Buku ini juga merekam potret sosial dan etika keseharian yang mengagumkan, seperti kejujuran sopir bus umum, budaya bersepeda di tengah modernisasi, pejalan kaki yang sangat dimuliakan, ketangguhan pengantar koran subuh (Shinbun Haitatsu), serta kemandirian para ibu muda. Kehidupan modern yang bersahabat juga tercermin dari kehadiran Family Mart, popularitas topi Sanfrecce Hiroshima, hingga budaya hemat melalui toko barang bekas 2-nd Street. Melalui seluruh ulasan berharga mengenai nilai, moral, norma, dan karakter masyarakat Saijo Nishihonmachi ini, buku diharapkan dapat menjadi refleksi dan inspirasi positif bagi kehidupan kita di Indonesia tercinta.