Asrama YAPI — The Home of Future Leaders

Asrama YAPI | The Home of Future Leaders

Pusat pembinaan dan beasiswa hunian kepemimpinan mahasiswa S1 PTN/PTKIN di Jakarta sejak 1952.

Daftar Sekarang
Opini

Kunjungan ke TechnoNatura: Tentang Kesejukan, Keadilan, dan Keberanian Berinovasi

Kunjungan ke TechnoNatura: Tentang Kesejukan, Keadilan, dan Keberanian Berinovasi

9 Juli 2026, saya bersama tim tindak lanjut Simposium YAPI—Ustadz Rohmani, M. Sidik Sabri, Danu Raga, dan enam orang warga asrama—menyambangi sebuah madrasah di Depok. Kami diterima oleh A. Riza Wahono, salah satu pendirinya. Pertemuan dengan beliau terasa berbeda sejak awal. Tidak ada seremoni berlebihan, tidak ada presentasi formal yang kaku. Hanya obrolan panjang tentang pendidikan yang perlahan membuka cara pandang saya selama ini.

Suasana di madrasah itu terasa sejuk. Bukan karena pendingin ruangan, melainkan karena pepohonan yang sejak awal pembangunan memang sengaja dipertahankan. Mereka memilih untuk tidak menebang, dan pohon-pohon itu seolah membalas budi dengan memberikan udara yang segar dan teduh. Pencahayaan pun sangat hemat, hampir tanpa lampu di siang hari. Saya sempat melihat proyek-proyek pangan yang dikelola siswa, termasuk budidaya superfood yang menurut saya menarik karena menghubungkan langsung pelajaran sains dengan kebutuhan pangan masa depan.

Tetapi yang benar-benar menggelitik pikiran saya adalah cara mereka memandang sekolah. Di tengah mayoritas sistem pendidikan kita yang masih berbasis mata pelajaran—di mana siswa dijejali materi dan diuji dengan jawaban-jawaban baku—TechnoNatura memilih jalan lain. Mereka menggunakan pendekatan berbasis proyek. Pagi hingga siang, siswa belajar reguler untuk membangun fondasi. Siang hingga sore, mereka masuk ke zona yang berbeda: mengasah kolaborasi, berpikir kritis, kreativitas, kepercayaan diri, kompetensi, dan karakter melalui dua ekosistem, teknologi dan alam. Di satu sisi ada laboratorium robotik dan AI yang membuat saya tercengang; di sisi lain ada laboratorium anggrek dan spirulina yang mengajarkan kearifan terhadap kehidupan.

Saya sempat bertanya di mana laboratorium komputer mereka. Saya membayangkan ruangan berisi deretan PC yang tertata rapi. Jawaban Riza justru membuat saya terdiam sejenak. Beliau mengatakan bahwa mereka tidak punya laboratorium komputer dan memang tidak membutuhkannya. Bagi beliau, perangkat usang di laboratorium komputer sekolah-sekolah pada umumnya tidak lagi relevan. Siswa harus dibekali dengan alat teknologi mutakhir yang benar-benar digunakan di dunia nyata, karena teknologi adalah alat yang akan terus berganti. Ada konsep yang beliau sebutkan yang terus terngiang di kepala saya: learn, unlearn, relearn. Belajar, melepas apa yang sudah usang, dan belajar kembali. Teknologi sebagai alat akan berubah setiap tahun, tetapi teknologi sebagai proses berpikir adalah tujuan yang tidak pernah bergeser. Beliau menutup penjelasannya dengan kalimat yang sangat membekas. Bahwa alat-alat canggih itu bukanlah kebanggaan mereka. Kebanggaan mereka adalah ketika alat-alat itu mampu membuat anak-anak menjadi pribadi yang berinovasi dan memiliki cara berpikir kritis yang baik.

Saya juga tertarik pada bagaimana relasi guru dan murid dibangun di sini. Tidak ada sekat hierarkis yang kaku. Guru berperan sebagai mentor dan fasilitator, bukan penguasa di kelas. Menariknya, seorang guru tidak dituntut untuk mahir dalam robotik atau AI; yang lebih ditekankan adalah bagaimana mereka menjadi teman tumbuh bagi siswa. Semua orang di lingkungan ini adalah pembelajar seumur hidup. Anak-anak didorong untuk menikmati proses belajar dan terus ingin belajar, bukan sekadar mengejar tuntutan standar tertentu. Ini menurut saya adalah fondasi yang sehat, karena rasa ingin tahu yang dijaga akan bertahan jauh lebih lama daripada sekadar kepatuhan terhadap kurikulum.

Lalu seorang mahasiswa dalam rombongan kami melontarkan pertanyaan yang sering kali membuat banyak pihak tersinggung. Ia bertanya, bukankah sekolah-sekolah bagus justru sering menciptakan ketidakadilan karena hanya bisa diakses oleh mereka yang berprivilege? Saya menyadari ini adalah kritik yang adil. Namun jawaban Riza lagi-lagi membuat saya merenung. Di TechnoNatura, SPP tidak dipatok dengan angka tetap. Besarnya adalah lima persen dari gaji orang tua. Tidak peduli siapa orang tua siswa tersebut, apakah seorang eksekutif atau buruh, semua membayar sesuai proporsi dan semua mendapatkan fasilitas serta guru yang sama. Dengan cara ini, akses terhadap pendidikan berkualitas tidak lagi menjadi istimewa bagi segelintir orang. Ia menjadi hak yang terbuka bagi siapa saja.

Tetapi pertanyaan lain yang tak kalah penting muncul dari benak saya, dan mungkin juga dari banyak orang tua di luar sana: bagaimana dengan masa depan selepas madrasah ini? Kekhawatiran terbesar orang tua terhadap pendidikan alternatif biasanya adalah jalur kuliah. Riza menjawab dengan tegas bahwa beliau hanya merekomendasikan anak-anak didiknya untuk melanjutkan studi di luar negeri. Sejak kelas sepuluh, mereka sudah diwajibkan memiliki skor IELTS yang memadai dan dibekali dengan pemahaman menyeluruh tentang semua persyaratan administratif yang diperlukan. Namun yang menurut saya paling menarik adalah pembekalan portofolio nyata. Karena mereka terbiasa membuat karya setiap hari, portofolio yang mereka miliki bukanlah kumpulan rencana atau sekadar nilai di atas kertas, melainkan bukti nyata dari proyek-proyek yang sudah mereka selesaikan. Ini, menurut Riza, adalah daya tarik utama yang membuat banyak kampus luar negeri tertarik pada lulusan TechnoNatura. Mereka tidak hanya datang dengan nilai, tetapi dengan karya yang bisa dilihat, diuji, dan dirasakan manfaatnya.

Saya juga mendengar bagaimana pandangan beliau tentang birokrasi dan akreditasi. Riza mengakui bahwa ia tidak terlalu peduli dengan akreditasi formal. Bukan karena anti-sistem, tetapi karena baginya masyarakatlah yang harus menilai kualitas sekolah ini secara langsung. Karya-karya nyata dan prestasi siswa adalah bentuk akreditasi yang jauh lebih jujur daripada sekadar sertifikat administratif. Saya bisa merasakan bahwa ini adalah konsekuensi logis dari pendekatan yang ia bangun, yang terinspirasi dari berbagai pola pendidikan di berbagai tempat yang pernah ia temui dan pelajari.

Keraguan akan pendekatan ini hilang ketika kami menyaksikan langsung enam kelompok siswa mendemonstrasikan proyek robotik mereka. Mereka mempresentasikan hasil karya yang merupakan jawaban atas tantangan yang telah ditentukan sebelumnya. Kami mencoba menguji mereka dengan berbagai pertanyaan teknis. Saya perhatikan mereka menjawab dengan tenang, detail, dan sangat sistematis. Tidak ada kegugupan. Yang terpancar adalah penguasaan yang jelas, seolah mereka sudah terbiasa mempertanggungjawabkan setiap keputusan teknis yang mereka buat. Mereka tidak sedang menghafal prosedur; mereka sedang menjelaskan proses berpikir mereka.

Saya jadi teringat pada skor PISA Indonesia yang masih rendah. Bukan karena anak-anak kita bodoh, melainkan karena sistem kita masih berkutat pada kompetensi rendah—sekadar menjawab soal dan memahami bacaan. Kita belum cukup melatih mereka untuk mencipta. Banyak dari kita masih menganggap bahwa belajar itu harus di sekolah, duduk di kursi, dan mendengarkan guru. Padahal, kemampuan tinggi justru diuji ketika seseorang dihadapkan pada masalah yang belum pernah ia temui sebelumnya. TechnoNatura tampaknya mencoba menjawab itu.

Madrasah ini telah berkali-kali memenangkan kejuaraan dunia di bidang robotika dan konservasi lingkungan, dengan peserta dari seratus enam puluh negara. Itu bukan lomba biasa. Itu adalah pengakuan bahwa pendekatan yang mereka pilih ternyata diakui di level global. Namun yang lebih menarik bagi saya bukanlah gelar atau piala, melainkan proses yang mereka jalani setiap hari. Belajar di alam, belajar dengan teknologi, dan yang terpenting, belajar untuk memecahkan masalah yang nyata.

Kunjungan singkat itu mengajarkan saya bahwa pendidikan alternatif bukanlah isapan jempol. Ia mungkin tidak selalu sesuai dengan prosedur, mungkin sering berbenturan dengan birokrasi, dan mungkin tidak selalu mudah dipahami oleh masyarakat awam. Tetapi ketika kita menyaksikan langsung bagaimana anak-anak muda itu berbicara dengan percaya diri tentang solusi-solusi yang mereka ciptakan, saya merasa itulah bentuk pertanggungjawaban yang paling jujur terhadap masa depan. Mungkin sudah saatnya kita tidak hanya bertanya tentang nilai rapor, tetapi mulai bertanya tentang apa yang telah diciptakan oleh anak-anak kita untuk dunianya. (Najib)