Jakarta — Asrama YAPI resmi menyelenggarakan program pelatihan intensif Sekolah Calon Guru Batch 1 sebagai bagian dari upaya menyiapkan calon pendidik yang tidak hanya mampu mengajar, tetapi juga memahami fondasi filosofis dalam dunia pendidikan.
Pada episode perdana program ini, Asrama YAPI menghadirkan Ustadz Rohmani sebagai pemateri dengan tema “Filsafat Pendidikan”. Materi ini menjadi pembuka penting karena mengajak peserta memahami cara pandang mendasar seorang guru terhadap peserta didik sebelum masuk pada teknik, metode, maupun strategi pembelajaran.
Memahami Cara Pandang Guru terhadap Anak
Dalam pemaparannya, Ustadz Rohmani menjelaskan bahwa seorang pendidik perlu memahami asumsi dasar tentang perkembangan anak. Ia menguraikan tiga aliran utama dalam filsafat pendidikan, yaitu nativisme, empirisme, dan konvergensi.
Nativisme memandang bahwa potensi anak sangat ditentukan oleh faktor bawaan atau genetik sejak lahir. Sementara itu, empirisme menekankan bahwa lingkungan, pendidikan, dan pengalaman memiliki peran utama dalam membentuk karakter serta kemampuan anak.
Di antara kedua pandangan tersebut, teori konvergensi hadir sebagai pendekatan yang lebih menyeluruh. Teori ini mengakui adanya potensi bawaan pada diri anak, tetapi juga menegaskan pentingnya lingkungan yang tepat agar potensi tersebut dapat berkembang secara optimal.
Melalui pembahasan ini, peserta diajak untuk tidak melihat anak secara seragam. Setiap anak memiliki latar belakang, potensi, dan proses perkembangan yang berbeda. Karena itu, guru perlu memiliki cara pandang yang utuh sebelum menentukan pendekatan pembelajaran.
Guru Perlu Memahami Teori Perkembangan
Salah satu penekanan penting dalam sesi ini adalah perlunya guru memahami teori perkembangan anak. Ustadz Rohmani menyampaikan bahwa guru tidak boleh mengajar hanya berdasarkan asumsi pribadi atau kebiasaan yang diwariskan tanpa refleksi.
Ia memberikan analogi Kartu Menuju Sehat atau KMS yang digunakan di Posyandu untuk memantau tumbuh kembang balita. Sebagaimana pertumbuhan fisik anak perlu dipantau, perkembangan kognitif, sosial, dan emosional peserta didik juga perlu dipahami oleh guru.
Dalam konteks ini, teori perkembangan seperti yang dikenalkan oleh Jean Piaget menjadi penting untuk membantu guru memetakan tahapan berpikir anak. Dengan memahami perkembangan siswa sesuai jenjang usianya, baik SD, SMP, maupun SMA, guru dapat menyesuaikan metode pembelajaran agar lebih relevan dan efektif.
Gagasan Satu Anak, Satu Kurikulum
Pelatihan ini juga menghadirkan gagasan visioner tentang pentingnya pendekatan personal dalam pendidikan, yaitu konsep “satu anak, satu kurikulum.”
Gagasan ini menekankan bahwa setiap anak perlu dipahami secara lebih mendalam. Guru perlu memiliki kepekaan untuk mencatat riwayat perkembangan siswa, mulai dari latar belakang keluarga, pengalaman belajar, kebiasaan harian, hingga hambatan yang mungkin memengaruhi pencapaian akademiknya.
Dengan pendekatan tersebut, guru tidak hanya menilai siswa dari hasil ujian, tetapi juga memahami proses yang membentuk perkembangan anak. Jika terdapat ketidaksesuaian antara potensi dan capaian akademik siswa, guru dapat melakukan evaluasi yang lebih adil dan tepat sasaran.
Pendidikan sebagai Ikhtiar Menjaga Fitrah
Pada bagian akhir sesi, Ustadz Rohmani mengajak peserta melakukan refleksi spiritual mengenai hakikat pendidikan. Ia menegaskan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Lingkungan, keluarga, dan pendidikan kemudian memiliki peran besar dalam mewarnai arah perkembangan anak tersebut.
Pandangan ini mengingatkan bahwa tugas guru bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga mendampingi anak agar tumbuh sesuai dengan potensi terbaiknya. Pendidikan menjadi proses panjang untuk menjaga, mengarahkan, dan mengembangkan fitrah manusia.
Mencetak Calon Guru yang Berjiwa Filosofis
Program Sekolah Calon Guru Batch 1 Asrama YAPI diharapkan menjadi ruang pembinaan bagi warga Asrama YAPI yang memiliki minat dan potensi di bidang pendidikan. Melalui program ini, peserta tidak hanya dibekali keterampilan mengajar, tetapi juga diajak memahami makna mendalam dari profesi guru.
Dengan fondasi filsafat pendidikan yang kuat, calon guru diharapkan mampu mengajar dengan lebih sadar, reflektif, dan bertanggung jawab. Episode perdana ini menjadi langkah awal untuk membangun generasi pendidik yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga memiliki kepekaan dalam memahami manusia.