Asrama YAPI — The Home of Future Leaders

Asrama YAPI | The Home of Future Leaders

Pusat pembinaan dan beasiswa hunian kepemimpinan mahasiswa S1 PTN/PTKIN di Jakarta sejak 1952.

Daftar Sekarang
Kegiatan

Milad ke-74 YAPI : Reimagining Education sebagai Ajakan untuk Terus Bertanya

Milad ke-74 YAPI : Reimagining Education sebagai Ajakan untuk Terus Bertanya

Sebuah simposium pendidikan digelar di lingkungan Yayasan Asrama Pelajar Islam dalam rangka milad ke-74 tahun. Tema yang diangkat adalah Reimagining Education, yang oleh penyelenggara dimaknai sebagai ajakan untuk terus bertanya dan mempertanyakan kembali seluruh asumsi tentang bagaimana seharusnya pendidikan dijalankan. Acara ini sepenuhnya diorganisir oleh warga Asrama YAPI dan dihadiri oleh pengurus organ YAPI, para guru dari berbagai jenjang, warga asrama itu sendiri, mitra sekolah, serta alumni YAPI yang kini berprofesi sebagai pendidik dan pengelola lembaga pendidikan. Acara dibuka oleh Bachrun Idris selaku Ketua Pembina YAPI.


Simposium terbagi ke dalam dua segmen besar. Segmen pertama mengupas tentang kecerdasan buatan dan lanskap pendidikan masa depan, sementara segmen kedua menyoroti pendidikan alternatif sebagai khazanah pemikiran yang selama ini kerap terpinggirkan. Di segmen pertama, Prof. Dr. Ir. Dadan Umar Daihani, D.E.A., yang merupakan tenaga profesional di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI sekaligus seorang pakar kecerdasan buatan, memaparkan bahwa dunia saat ini tidak lagi hanya dihuni oleh lanskap nyata, tetapi juga lanskap maya. Ruang siber, kata dia, bukan sekadar ruang komunikasi, tetapi telah menjadi arena ekonomi, pertahanan, politik, dan intelijen. Dalam konteks itu, ketahanan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kemampuannya beradaptasi. Ia memberi satu ilustrasi sederhana: dinosaurus punah bukan karena lemah, melainkan karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan. Menurutnya, kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk otomatisasi dan pengambilan keputusan, namun manusia tetap memegang tanggung jawab moral sebagai pengelola bumi. Paparan itu kemudian ditanggapi oleh Rohmani, MA, seorang mantan anggota DPR RI Komisi X bidang pendidikan yang juga alumni YAPI. Rohmani menyoroti persoalan regulasi. Menurut pengalamannya di senayan, banyak model pendidikan alternatif yang sudah terbukti berjalan di masyarakat tetapi belum mendapatkan tempat yang memadai dalam kebijakan nasional. Ia menekankan perlunya aturan yang adaptif terhadap perubahan yang begitu cepat, tanpa kehilangan pijakan pada nilai-nilai dasar.


Memasuki segmen kedua, giliran Abdul Khair yang merupakan pengajar di Kuttab Al-Fatih Beji, Depok. Ia mengangkat tema keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama dan paling berpengaruh. Dalam pemaparannya, Abdul Khair menyebut empat pilar pembangunan keluarga muslim, yaitu agama dan akhlak, orientasi keturunan, batasan-batasan Allah, serta pemahaman ilmu pendidikan. Baginya, keluarga bukan sekadar tempat tinggal bersama, melainkan lembaga yang harus didesain secara sadar. Karena itu, pembinaan calon orang tua menjadi langkah awal yang tidak boleh dilewatkan sebelum seseorang mulai mendidik anak. Setelah itu, Dr. A. Riza Wahono, pendiri Madrasah TechnoNatura, berbagi pengalaman tentang kurikulum STEAMS yang dikembangkannya. STEAMS adalah singkatan dari Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, dan Sports, yang semuanya dipadukan dengan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. Ia menjelaskan bahwa model pembelajarannya berbasis proyek jangka panjang, mulai dari tingkat dasar hingga robotika dan inovasi AI. Yang menarik, kata Riza, kurikulum tersebut tidak disusun di atas meja, tetapi didorong oleh masalah-masalah nyata seperti kerusakan lingkungan, ketahanan pangan, kesehatan, energi, hingga kebutuhan sosial masyarakat sekitar. Ia menambahkan bahwa tujuannya bukan sekadar mencetak teknisi atau programmer, tetapi manusia yang mampu memecahkan masalah nyata dengan teknologi sekaligus tetap memiliki empati. Penanggap di sesi kedua adalah Prof. Dr. Otib Satibi Hidayat, M.Pd. Ia menyampaikan bahwa dua pendekatan yang tampak sangat berbeda—yaitu model kuttab yang klasik dan model TechnoNatura yang modern dan berbasis teknologi—sebenarnya memiliki satu benang merah yang sama: peran orang tua. Menurut Prof. Otib, apapun model kurikulumnya, jika orang tua tidak terlibat aktif, pendidikan hanya akan berjalan di permukaan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan di sekolah sangat ditentukan oleh dukungan aktif dari keluarga.


Sepanjang acara, peserta yang terdiri dari guru, alumni pendidik, mitra sekolah, dan warga asrama terlihat mengikuti diskusi dengan cukup antusias. Beberapa kali muncul pertanyaan-pertanyaan dari lantai, yang justru mempertegas bahwa semangat untuk terus bertanya dan mempertanyakan—sebagaimana dimaknai dari tema Reimagining Education—benar-benar hidup di ruang simposium itu. Acara ditutup dengan kesimpulan sederhana bahwa YAPI diharapkan tetap menjadi tempat bertemunya berbagai pendekatan pendidikan, baik yang berakar pada tradisi maupun yang berbasis teknologi, tanpa kehilangan pijakan pada karakter dan visi awal yayasan.