Jakarta, 22 Mei 2026 – Suasana pendopo joglo kediaman Anies Baswedan pagi itu terasa berbeda. Sekitar pukul 09.30, lima puluh warga Asrama YAPI tiba dengan penuh semangat untuk mengikuti leadership visit, sebuah program kunjungan belajar kepemimpinan langsung kepada para tokoh. Mereka disambut hangat oleh Anies Baswedan di ruangan berarsitektur Jawa yang teduh, menciptakan atmosfer akrab sejak menit-menit pertama.
Dalam sesi yang berlangsung interaktif tersebut, Anies Baswedan membagikan pandangan-pandangannya tentang kepemimpinan yang relevan dan membumi. Alih-alih menyampaikan ceramah satu arah, ia membuka ruang dialog sehingga warga asrama leluasa mengajukan pertanyaan. Sepanjang acara, antusiasme peserta tampak jelas dari deretan tangan yang terus terangkat, saling berebut menggali lebih dalam pemikiran sang tokoh.
Salah satu poin utama yang ditekankan Anies adalah esensi kepemimpinan yang berpusat pada pengikut. “Menjadi pemimpin harus memikirkan pengikutnya, bagaimana mendapatkan kepercayaan dengan tulus, bukan karena paksaan,” ujarnya. Kepercayaan itu, lanjut Anies, dibangun dari tiga pilar penting: kompetensi, integritas, dan kedekatan. Ia menekankan bahwa semakin kecil kepentingan pribadi seorang pemimpin, semakin besar pula kepercayaan yang akan diperoleh dari orang-orang yang dipimpinnya.
Diskusi semakin dalam ketika Anies mengupas tentang kompas moral yang wajib dimiliki seorang pemimpin dalam mengambil keputusan. Ia merumuskan empat pertimbangan kunci yang harus selalu dipegang, yaitu keadilan, kepentingan umum, rasionalitas berbasis data, dan kepatuhan terhadap aturan hukum. Empat nilai ini, menurutnya, menjadi fondasi agar setiap kebijakan tidak hanya tepat sasaran, tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan secara etis.

Tak hanya berbicara soal integritas, Anies juga membekali peserta dengan lima kemampuan esensial dalam memimpin. Pertama, critical thinking atau kemampuan bertanya dan mempertanyakan. Ia mencontohkan bagaimana sejumlah kebijakan publik di era kepemimpinannya sebagai gubernur lahir dari proses mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap kondisi yang ada. Kemampuan berikutnya adalah berpikir kreatif, adaptif, kolaboratif, serta keterampilan komunikasi yang efektif. Kelima kemampuan ini dipandangnya sebagai bekal tak terpisahkan bagi pemimpin masa depan yang harus bergerak di tengah perubahan yang cepat.

Suasana pendopo yang sarat nilai tradisi itu seolah menjadi saksi bisu mengalirnya gagasan-gagasan segar. Para peserta tidak hanya menyimak, tetapi juga mencatat, merefleksikan, dan mengaitkannya dengan pengalaman mereka sehari-hari. Salah satu peserta mengaku terkesan dengan cara Anies membangun logika kepemimpinan yang utuh, dari aspek moral hingga teknis.
Kegiatan leadership visit Asrama Yapi ini menjadi bukti bahwa belajar kepemimpinan tidak melulu bisa dilakukan di ruang kelas. Berdialog langsung dengan tokoh yang telah melalui berbagai medan pengabdian publik memberi perspektif baru yang hidup dan mengena. Lebih dari sekadar kunjungan, acara ini meninggalkan bekas mendalam tentang arti memimpin dengan hati, pikiran, dan nilai yang kokoh.