Wisma IKADI menjadi tempat berlangsungnya kegiatan Kuliah Umum Pendidikan Mubaligh IKADI yang diselenggarakan oleh Ikatan Dai Indonesia pada Sabtu, 09 Mei 2026. Kegiatan ini terbuka untuk masyarakat umum dan diikuti oleh kurang lebih 25 peserta dari berbagai kalangan, termasuk warga Asrama YAPI.
Sebagai hasil dari acara ini, seluruh warga asrama yang berpartisipasi akan mendapatkan sertifikat sebagai mubaligh IKADI. Sertifikat ini merupakan bentuk apresiasi sekaligus pengakuan resmi atas keikutsertaan mereka dalam program pendidikan mubaligh.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pendidikan mubaligh yang akan dilaksanakan selama 12 kali pertemuan setiap hari Sabtu. Acara diawali dengan pembukaan serta pemaparan sejarah berdirinya IKADI sebagai organisasi dakwah yang bergerak dalam pembinaan umat dan pengembangan kader mubaligh di Indonesia.
Setelah sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi bertema Problematika Umat di Era Global. Materi tersebut membahas berbagai tantangan yang dihadapi umat Islam saat ini, mulai dari lemahnya persatuan umat, krisis keteladanan, hingga kurangnya sumber daya mubaligh di beberapa daerah.
Hadir sebagai pemateri utama, Prof. Dr. Ahmad Satori Ismail memberikan motivasi sekaligus pandangan mengenai pentingnya peran mubaligh dalam membangun masyarakat. Dalam penyampaiannya beliau mengatakan, "Kalau kita sebagai ummat Islam tidak saling bahu-membahu maka akan terjadi perpecahan. Inilah problematika yang kita hadapi sekarang."
Kegiatan ini diselenggarakan karena masih terdapat beberapa daerah yang mengalami kekurangan mubaligh atau penceramah. Akibatnya, masyarakat harus mendatangkan penceramah dari luar daerah untuk mengisi kegiatan keagamaan. Bahkan pernah terjadi peristiwa ketika khatib Jumat berhalangan hadir dan pihak masjid meminta pengganti secara mendadak, namun tidak ada jamaah yang bersedia atau berani menggantikannya sehingga salat Jumat tidak dapat dilaksanakan dan diganti dengan salat Zuhur berjamaah.
Melalui program ini, IKADI berharap dapat melahirkan generasi mubaligh yang memiliki keberanian, kemampuan berbicara, serta pemahaman agama yang baik sehingga mampu menjawab kebutuhan umat di tengah perkembangan zaman.
Acara kemudian ditutup dengan sesi diskusi dan tanya jawab bersama tiga peserta yang aktif menyampaikan pertanyaan serta pandangan terkait kondisi umat saat ini.
Salah seorang peserta Pendidikan Mubaligh, Dina Wulandari, mengaku sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, acara ini tidak hanya menambah wawasan keislaman, tetapi juga memberikan motivasi dan semangat baru untuk terlibat dalam dakwah serta pembinaan masyarakat. Ia juga mengatakan bahwa para peserta terlihat sangat bersemangat mengikuti setiap rangkaian kegiatan, bahkan peserta dari kalangan lanjut usia tetap antusias hadir dan aktif dalam pembelajaran. Hal tersebut menjadi bukti bahwa semangat menuntut ilmu tidak mengenal usia dan diharapkan mampu memotivasi generasi muda agar lebih giat dalam belajar serta mendalami ilmu agama.